ungkapan kebersamaan, kerinduan, kesedihan, kebahagiaan dan kegilaan dalam karya kampusgampingan

Minggu, 17 Februari 2008

Kampus Gampingan dalam Kenangan

surga bagi kaum lelaki

neraka bagi lelaki yang terjajah lelaki

kawah candradimuka bagi para gadis lugu

momok bagi yang merasa tersakiti

medan perang bagi pengejar mimpi-mimpi olah rupa

selembar ‘kertas’ dan penjamin ‘predikat’ bagi pemuja gelar dan status

jejak petualangan bagi para pecinta

warna pelangi bagi penjelajah hidup

tidak sekedar kumpulan orang ‘unik’

mozaik kehidupan

kampus gampingan….

romantika, harapan dan kenangan

puisi by Yolanda
foto by Wintoro






INDAHNYA KOPIDARAT


Pak Mod Gombak

Pak Mod & Cak Bush


Temen2 milis yang berbahagia
Sejak Jumat tanggal 25 Januari 2008, saya mulai
berangkat ‘Tour de Jatim”, tujuan utama saya adalah ke
desa Pandansari, Kec. Ngantang, Kab. Malang (Waduk
Seloredjo), untuk menjadi ‘cucuklampah’ nembungke
gadis di desa itu yang kebetulan disunting oleh salah
seorang teman (Joko Tuwo hahahahaha..tapi karir oke
bangets).

Ngiras-ngirus, saya menyempatkan diri kontak dengan
Dab Gombak di Solo (karena rutenya lewat situ),
alhasil kami janjian kopdar di Gudeg Ceker ‘mBak Yus’
depan pasar Triwindu Solo.

Pukul 22.00, saya tiba di situ dan kopidarat dengan
Gombak sambil makan Gudeg Ceker, Ketan Bubuk dan
ndengerin pengamen jalanan yang menyanyikan lagu2
reggae-nya Bob Marley. Wah…jebul asyiiik tenan lho
yang namanya kopidarat itu..yah kita bisa liat kondisi
fisik masing2 yang sudah ‘Beginning Fourties’, weteng
njembluk mendahului karir hahahahahaha…..
Pertemuan itu saya abadikan dan dapat temen2 liat di
album ‘Kopidarat’ (milis)

Ngobrol ngalor ngidul asyiik banget ga terasa udah jam
24.00, saya pamitan dan tidur semalem di Solo. Saya
janjian lagi sama Gombak, kalo dia tugas ke Semarang
gantian mau mampir.

Semalem tidur di Kota Bengawan……..ademmmm Dab……
Pagi jam 07.30, rombonganku berangkat ke Malang,
sebelumnya saya udah ngebel Lurah Nganjuk, Raden Mas
Sri Busono Kriyadiningrat, S.Sn untuk ijin lewat
‘wewengkon’nya yaitu alas Caruban dan Pondok Guyangan,
Beliau dengan Senang hati mengijinkan dan mengeluarken
instruksi : ‘POKOK’E JAM PIRO WAE, YEN LIWAT NGANJUK
KUDU NGEBEL, SEBAB RADEN MAS SRI BUSONO SUDAH NYIAPKEN
PECEL YANG LEB GHODEB’

Nyuwun sewu Dab Nganjuk, aku ngpusi kowe je….
Sebelumnya saya udah nelpon Dab Nganjuk kalo posisi
saya udah di Malang, dia kaget kok cepet, makanya
Nganjuk merekomendasikan kalo pulang malam dari
selorejo, saya diminta mampir Nganjuk untuk makan
pecel ‘best of the best’ kota Nganjuk, setelah saya
beritahu kalo jebule saya baru budhal dari Solo dan
udah nyampe Sragen, Den Baguse Nganjuk misuh2 sama
saya hahahahahahahaha

(Sori yo lek….just kidding aja biar ada kejutan)
Siang Jam 11.15 saya masuk kota Nganjuk dan dipandu
Raden Mas Son ‘by Phone’ untuk menuju Restoran
‘Nirwana’, begitu masuk, parkiran penuh dan terasa
hiruk pikuk. Setelah ,tak injen’ jebule Restorannya
merangkap gedung kawinan…weleh mulane rame banget koyo
sekaten…Cuma yang dateng rodo melek2 cewekke
huahahahaha….

Rombongan saya dijamu Dab Son Nganjuk ’Sop Kambing’
yang rasane bener2 Muantappppp………..daginge empuk
banget dan porsinya benar2 jumbo.
Restoran ini pantes direkomendasikan untuk anda
penggemar Kuliner !
( Foto dapat dilihat di album KOPIDARAT milis).
Setelah ndobos2 ngalor ngidul, saya pamitan untuk
nerusin laku ke Seloredjo. Saya mempersilakan Den Mas
Nganjuk atau Gombak kalo ke Semarang akan saya ajak
makan di warung ‘IWAK MANUK’ Mangkang, ini spesialis
mliwis goreng dengan sambal korek yang mantap plus
lalapannya daun singkong. Ditanggung ketagihan Dab
!!!!!!

Sebelum budhal, kami diberi tips sama Nganjuk untuk
lewat Kertosono, belok Purwoasri, Kandangan terus naik
Selorejo, karna anti macet dan aspalnya mulus.
Kami mengikuti saran Lurah Nganjuk, dan benar ! jalan
lengang dan Mulus. Kami tiba di Waduk Selorejo pukul
15.00, daerahnya sejuk banget kayak Kaliurang, air
waduknya sangat bening. Banyak vila yang bertebaran di
situ. Anda bisa outbond, rafting dll dengan tarip
ringan. Kebetulan tempat ‘calon mertua’ temenku ada
didalam kompleks wisata waduk, jadi kami menginap di
vila dengan hiburan mancing.

Minggu tanggal 27 januari 2008, jam 11.30 kami
meninggalkan Selorejo menuju Semarang lewat Babat,
Tuban dan mampir di Lasem untuk ‘icip2’ kuliner yang
sip tenan, yaitu ‘LONTONG TUYUHAN’, rasane bener2 luar
biasa. Saya tahu tempat ini karena sahabat saya yang
juga ikut dalam rombongan, Kang Josia (dia orang
Chinese, tapi sangat ‘njawani’, dan lebih seneng
dipanggil ‘Kang’ daripada ‘Ko’ ) ngajakin mampir ke
situ. Jebule mantep tenan rek !!!!

Dab Nganjuk kalo pas ilegal logging dan lewat Lasem
bisa mampir ke situ, juga temen2 yang lain
hehehehe……tempatnya agak menjorok ke dalam
perkampungan (Kampung Tuyuhan), agak jauh dari lintas
Pantura.

Malem pukul 23.00, saya baru nyampek rumah di
Semarang. Jalan Pantura macet, penuh konvoi Truk.
Mungkin karena jalur selatan yang lewat Solo dialihkan
karena akan dilewati konvoi ‘Mbah Harto’ ke Astana
Giribangun.

Demikian konco2 semua, ‘oleh-oleh’ cerita dari saya…..
Bagi2 Konco yang mau ‘KOPDAR’ tulung didokumentasikan
dan diposting ke album ‘KOPIDARAT’
Semene ndisik critane,
Matur nuwun Dab Gombak,
Matur nuwun Raden Mas Sri Busono Kriyadiningrat, S.Sn
Atas sambutan dan jamuan anda yang ‘Ruarrr biasa’
berkesan

God Bless You……


WINTORO

Jumat, 08 Februari 2008

Toto Mukmin


Homo luden
Acrilic on canvas60 x 60 cm2008
Bermain di masa kanak-kanak dengan tanpa beban dan tanggung jawab penuh atas apa yang dilakukan yang ada hanyalah kesenangan dan kepuasan menemukan suatu hal baru



Comfort Zone
Acrilic on canvas120x90
Merupakan refleksi dari kenikmatan semu sebuah zona aman / comfort zone yangseolah-olah aman dan nyaman, padahal mungkin akan menjadikan diri kita stagnanmematikan kreatifitas, dan menjadi pecundang. Selanjutnya cita-cita dan semangat dibunuh perlahan-lahan.

Be Independent
Acrilic on canvas120 x 90 2007
Untuk menjadi manusia merdeka diperlukan semangat besar dan keberanian sempurna, keberanian untuk lepas dari "ketergantungan pada kaki orang lain" adalah kata kuncinya

Someday
Ukuran 120 X 90 cmAcrilic on canvas 2008
Jangankan mengekspor teknologi, bahan baku tempe aja masih diimport dari luar negeri. Kemudian tanpa ragu kita habiskan sumber cadangan alam untuk dieksporseakan tanpa berhitung suatu saat akan musnah dari bumi Indonesiadan akhirnya suatu saat mengimpor juga dari luar negeri

Selasa, 05 Februari 2008

Hikayat Baginda Nganjuk

KGPH Sri Bhusono Kriyadiningrat, S.Sn

Kerajaan Nganjuk Darussalam adalah negara yang memiliki corak
pemerintahan monarki konstitusional dengan Sultan yang menjabat
sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, merangkap sebagai
Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan dengan dibantu oleh Dewan
Penasihat Kesultanan dan beberapa Menteri. Sultan KGPH Sri Busono
Kriyadiningrat, S.Sn yang gelarnya diturunkan dalam wangsa yang sama
sejak abad ke-15, ialah kepala negara serta pemerintahan Nganjuk.
Baginda dinasihati oleh beberapa majelis dan sebuah kabinet menteri,
walaupun baginda secara berkesan merupakan pemerintah tertinggi.
Media amat memihak kerajaan, dan kerabat kerajaan melestarikan
status yang dihormati di dalam negeri.

Nganjuk Darussalam tidak memiliki dewan legislatif, namun pada bulan
September 2000, Sultan bersidang untuk menentukan Parlemen yang
tidak pernah diadakan lagi sejak tahun 1984. Parlemen ini tidak
mempunyai kuasa selain menasihati sultan. Disebabkan oleh
pemerintahan mutlak Sultan, Nganjuk Darussalam menjadi salah satu
negara yang paling stabil dari segi politik di Asia

Pertahanan Keamanan Nganjuk mengandalkan perjanjian pertahanan dengan
Ngayogyakarto Hadiningrat, di mana Baginda Sri Busono pernah menimba
ilmu olah kanuragan di Perdikan Gampingan, di mana terdapat
gerombolan pendekar edan yang bernaung di bawah wit ringin.
Sultan KGPH Sri Busono Kriyadiningrat, S.Sn memerintah kerajaan
Nganjuk dengan arif bijaksana. Arif karena mampu meningkatkan ekspor
non migas dengan menebang kayu untuk di juwal di pasar gampingan
demi devisa, dan bijaksana karena Sultan yang satu ini kalau ikut
sarasehan dan jadi juri lomba lukis anak suka ngeyel demi menjunjung
harkat dan martabat kebudayaan.

Sultan KGPH Sri Busono Kriyadiningrat, S.Sn tinggal di istana
Guyangan dengan Patih seorang ekspatriat dari nDalem Pujokusuman
yang pakar IT yaitu KGPH Gudeldiprodjo.

Pak Mod/Win


Masyarakat dan Desain







Sekitar tahun 1980-an kita kenal slogan ‘memasyarakatkan olah raga dan mengolah ragakan masyarakat’. Kala itu di setiap tempat, terutama di halaman sekolah-sekolah di negeri ini, khususnya pada pagi hari atau Jum’at pagi di halaman kantor-kantor berkumandang lagu Senam Kesegaran Jasmani yang mengiringi kita ber-SKJ. Kadang menjadi rutinitas yang membosankan dan jadi pembenaran untuk ‘menunda’ waktu bekerja. Di sisi lain upaya tersebut cukup efektif untuk mencapai tujuan agar tidak hanya jadi sekedar slogan.

Bagaimana dengan ‘memasyarakatkan desain dan membangun kesadaran desain pada masyarakat’? Dalam beberapa tahun terakhir para desainer grafis khususnya di bidang periklanan berhasil mengupayakan salah satunya melalui eksplorasi iklan-iklan di berbagai media yang berpeluang untuk diapresiasi langsung oleh masyarakat, juga dengan menggelar ajang penghargaan Citra Pariwara. Ada pula IGDS (Indonesia Good Design Selection) – seperti menurut Widagdo dalam bulletin HDII no.4 – yang dilaksanakan oleh Pusat Desain Nasional (PDN), sebagai bentuk pemilihan produk desain yang berkualitas baik IGDS merupakan salah satu upaya yang tepat untuk peningkatan apresiasi desain. Secara khusus kita sebagai desainer interior agaknya perlu juga mencari cara yang tepat guna untuk upaya memasyarakatkan, memopulerkan desain interior.

Publikasi desain sebagai ilmu dan karya atau produk melalui media massa baik cetak maupun elektronik terutama televisi, radio, dan internet menjadi sarana ampuh untuk merangsang dan meningkatkan daya apresiasi desain pada masyarakat. Perkembangan teknologi informasi terbukti mampu mendukung upaya publikasi, termasuk dalam hal upaya pembelajaran informal desain. Keberadaan program-program televisi, tabloid, majalah, artikel di media cetak lain yang membahas kasus desain interior merupakan salah satu cara efektif.

Kondisi masyarakat – termasuk kita – sebagai penyuka trend, ‘mimpi’, dan ‘gosip’ dapat juga menjadi pertimbangan untuk mencari cara tepat dalam penyampaian pengetahuan desain. Tingginya rating pemirsa sinetron, infotainment, dan reality show di media televisi menunjukkan karakter masyarakat tersebut. Suatu misi yang dikemas secara hiburan, interaktif, informal, dan ‘menyentuh sisi personal’ cenderung banyak diminati oleh berbagai kalangan. Tayangan ‘Bedah Rumah’ di salah satu stasiun televisi - terlepas dari pro kontra dan aspek komersial dari tayangan ini – merupakan satu upaya ‘mendekatkan’ desain pada masyarakat walau masih dalam tahap pendekatan desain yang sederhana. Kemasan program pembelajaran desain dalam bentuk edutainment dapat menjadi pilihan. Berbagai program yang telah ada selama ini dapat dikembangkan dengan sasaran yang lebih luas, ditujukan untuk seluruh lapisan masyarakat, baik tua, muda, di pedesaan, perkotaan, di pinggiran kali, di rumah susun ataupun di perumahan mewah.

Membangun kesadaran desain pada masyarakat mencakup upaya yang ‘lebih dalam’ daripada memasyarakatkan desain. Menentukan sebuah karya desain adalah desain yang ‘baik’ kita tahu tidaklah mudah, sangat relatif. Perlu pemahaman yang lebih jauh dan tidak hanya menjadi permasalahan ‘selera’ saja. Dalam hal ini kesadaran desain mencakup pula kesadaran estetika bentuk dalam arti luas : Estetika bentuk yang berkait dengan kebutuhan pemunculan jati diri, kesadaran konteks yang diterapkan dalam produk desain, baik yang dipakai dalam keseharian kita seperti kancing baju, jepit rambut, sikat gigi, pakaian sampai desain skala besar – rumah tinggal, bangunan publik dan kawasan.

Estetika merupakan salah satu aspek desain yang mengutamakan rasa, sisi personal dan manusiawi kita. Dengan demikian pemahaman ‘keindahan’ dapat menjadi modal kesadaran desain. Sejak kecil kita terus berestetika, dengan cara yang praktis, sederhana tentunya. Tentu kita ingat pengalaman kecil kita mengenal beragam warna, memadukan baju, tas dan sepatu kita, menentukan lagu favorit, memilih bungkus kado yang cantik dan banyak lagi yang merupakan cara sederhana melihat ‘keindahan’.

Sejalan dengan perkembangan jaman pemahaman akan suatu yang ‘indah’ tidak melulu secara fisik seperti harmonis, seimbang, selaras. ‘Indah’ menunjuk juga pada kualitas makna yang dikandung, bahkan sebuah eksistensi yang didasari oleh cerminan karakter dan ekspresi diri. Nilai ‘indah’ mengacu pada ungkapan kepribadian, ‘inner beauty’. Produk desain sesederhana, sekecil apapun dapat dimaknai sesuai dengan kejujuran fungsi, tujuan, sasaran, dan hal-hal lain yang mampu men-citra-kan pribadi pengguna ataupun esensi produk, ‘nilai’ kawasan, konteks, dll. Sebagai contoh : ‘indah’ pada eko desain mengacu pada keoptimalan dalam penyelarasan dengan alam, penerapan ‘ nilai-nilai kearifan’ termasuk pemanfaatan bahan dan konstruksi lokal, dll.

Penerapan mimpi, cerminan ‘citra lain’ di luar citra diri dapat saja bermakna, sah secara estetis, dan tidak sekedar ‘selera’ saja, asalkan pengguna sadar akan ‘tuntutan’ yang patut dipenuhi citra lain tersebut. Misalnya penerapan gaya klasik Eropa yang elegan, atau Minimalis yang fungsional sebagai pilihan berdasar trend, penunjukan status, dll. sebaiknya diimbangi pula dengan gaya hidup pengguna yang sesuai.

Keberhasilan ‘memasyarakatkan desain dan membangun kesadaran desain pada masyarakat’ tidak serta merta menghapus ‘bakat’ mengikuti trend ataupun memanfaatkan produk desain untuk penunjukan status. Keberagaman pola pikir dan cara menyikapi produk desain melatih kepekaan masyarakat dalam menentukan keputusan desain. Segala sesuatu dinilai menurut konteksnya, sepanjang tidak menyalahi norma-norma yang telah ada. Paling tidak sudah ada upaya mengoptimalkan fungsi dan tujuan desain yaitu meningkatkan kualitas hidup berbagai lapisan masyarakat.

Selasa, 29 Januari 2008

Yassir Malik, Grafis 87




It is the Show Time (80 X 100 cm)

merupakan lanjutan dari tema sebelumnya...,tentang identitas dan eksistensi. Teknis penggarapan dengan medium aklrilik, mixed dan kanvas



Fight against numbers (70 x 60 cm)

angka-angka ini (menurut saya)..simbol logika..ke-universal-an...mungkin jadi juga mutlak..., he he susah juga nulisnya.., ya silahkan dinikmati saja...deee!




Yuli Asmanto, Diskom 87


> Sampai Akhir
> Cinta Sedarah

Kamis, 24 Januari 2008

Wintoro Grafis 88/Jadul


"Beo Cerdas" - 1988
Dimuat di Majalah Djoko Lodhang Jogja, honore sithik......



Kartunis Selayang Pandang - 1988
Karya bulan Februari 1988, dimuat di MINGGU PAGI Jogja, lumayan iso nggo madang hehehehehe


"Buah dan Kutang" - 1986
dimuat di Minggu Pagi Jogja, ini bikinan waktu aku kelas III SMA



"Tukang Sulap" - 1986
dimuat di Minggu Pagi Jogja, ini bikinan waktu aku kelas III SMA


"Barongan Mabok" - 1987
dimuat di Minggu Pagi Jogja, ini bikinan waktu aku kelas III SMA











































Rabu, 23 Januari 2008

Iqbal Diskom 87/Jadul





Gusmoller Grafis 88/Jadul


Yasser Arafat
Habibie
Soeharto



Toto Mujio/Jadul


Kamis, 17 Januari 2008

Iqbal Diskom 87/Jasek



Santo Ajie Diskom 87/Jasek



Gusmoller 2

Gusmoller/Jasek

Moller
Sarwono

Eep Saefulloh

Tulus

Wintoro Grafis 88/Jasek




Wintoro Grafis 88

Sugeng Rawuh


Sugeng Rawuh,
Blog ini sengaja di ciptakan untuk menampung hasrat tak terkendali. Setiap insan kampusgampingan selalu merindukan kebersamaan dalam kebahagiaan maupun penderitaan. Wis langsung we iki blog dinggo pameran karya mas-mas atau mbak-mbak yang merasa pernah kuliah di Isi, kami tidak pandang bulu jurusan ataupun angkutan eh maaf angkatan. Diblog ini terdiri profile anggota lengkap foto, sing paling penting ada karya2 jaman dulu (JADUL) dan ada karya sekarang (JASEK). Pendahuluan ini perlu di tulis ulang lagi sesuai dengan kebutuhan.

TTD
Sugeng Riyadi